KAJIAN ISLAM DAN KARYA PENA

KAJIAN ISLAM YANG MEMUAT HAL-HAL BERKAITAN TENTANG PENGETAHUAN ISLAM BAIK SADURAN ATAU KARYA ASLI. BAIK HAL AKIDAH, MUAMALAT, FIKIH ATAUPUN TASKIYATUN NUFS (PENYUCIAN HATI)

JUGA KARYA PENA UMUM BERUPA PUISI CERPEN DAN KARANGAN ATAU ILMU PENGETAHUAN UMUM DAN PENELITIAN ILMIAH

Selasa, 22 Januari 2013

FITNAH DAN KHIANAT

 FITNAH DAN KHIANAT

Dia pun memanggilku, “Akhi, kapan kita membuat acara itu?” “Secepatnya!” Jawabku. Aku dan dia memang akrab, sayangnya aku laki-laki dia wanita. Keakraban itu terjalin karena adanya kebutuhan komunikasi dalam satu organisasi dan dalam satu event tertentu. Kini, event itu sangatlah aneh keakraban lebih rekat terjadi.
“Hari apa acara untuk adik-adik asuh kita? Ahad kan? atau Sabtu?” Itulah cecaran pertanyaan Kartika saat dia menjadi Penanggung Jawab bidang acara pada sebuah outbond yang akan digelar untuk membina adik-adik asuh kami. “Kalau bisa liburan Yaa Ukhti.” Jawabku. Sapaan Akhi bagi laki-laki dan Ukhti bagi wanita tampak akrab di telinga para thalib al-‘ilm. Tapi keakraban itu tak seakrab kami dengan ilmu yang kami pelajari. Bahwa Al-Qur’an dan Sunnah jelas-jelas melarang kami untuk saling berdekatan antara nonmahram.
“Baiklah, ana akan pesan bambu-bambu untuk kebutuhan kegiatan kita. Oya, rumbainya juga kan Ukh?” Tanyaku. “Iya, segera ya?” Jawab Kartika. Segera saja aku meluncur ke tempat yang sangat teduh, banyak pepohonan yang rindang dengan bambu di sela-selanya. Ah, tempat apa ini menyejukkan sekali? Sesekali ada penjual bambu lengkap dengan bambu hias dan juga rumbai-rumbai serta pernak-pernik lain yang indah. Si Penjual Bambu heran melihat aku yang terus melongo, kemudian dengan lembut dan tenang dia pun berujar
“Mau beli apa Dik?” Tanya penjual itu.
“Mau beli bambu dan segala kebutuhannya Pak, mau sewa tempat juga buat outbond bisa?”
“Ah, ya. Untuk hari apa?”
“Hari Ahad Pak. Bagaimana?”
“Iya bisa Dik.”
Akhirnya tawar menawarpun terjadi kemudian terjadilah kesepakatan harga bambu. Akan tetapi untuk ketetapan sewa tempat outbond pun masih belum deal, karena ternyata panitia masih perlu mematangkan lagi acara yang mereka desain agar menarik dan bermanfaat.
“Pak, keputusannya Hari Kamis deh. Tapi deal ya harganya?”
“Iya deh Dik, saya tunggu kabarnya.”
Aku pun langsung meluncur ke rumah Kartika untuk melaporkan kondisi terkini dan acara yang kami rancang.
Siang hari yang mendung, seakan hujan akan segera menjatuhi bumi dengan kesegarannya. Aku pun melihat mendung bergelayut akan tetapi aku harus berkoordinasi dengan Kartika. Aku ketua programnya, dan dia adalah penanggung jawab acara. Sebenarnya ada rasa sesak dalam hatiku, pembenaran akan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan larangan beliau untuk hati-hati terhadap wanita. Tiada fitnah yang paling besar yang beliau khawatirkan kecuali fitnah wanita[1]. Tapi bagaimana lagi, dengan dalih amanah yang kami emban kami pun harus melakukan kontak komunikasi. Anehnya, Kartika tak ada perasaan apapun dan tetap dingin. Aku pun bertanya, apakah ini hanya berlaku bagi laki-laki terhadap wanita saja atau bagaimana?
Aku ketok pintu rumahnya. Sepi, biasanya ada kakak perempuannya atau saudaranya atau orang tuanya. Kini sepi, mungkin sibuk. “Masuk” terdengar suara dari dalam, aku pun ragu untuk masuk rumahnya. “Gak papa?” tanyaku. “Gak papa.”
Kami pun mengobrol tentang masalah perencanaan acara itu. Aku pun bergumam, “Aku harus mengatakan sesuatu untuk melindungi diriku dari murka Allah.” Memang hal ini adalah kesempatan emas untuk berbuat tidak baik, tetapi tetap hal ini harus aku katakan sebagai seorang yang memahami tentang ilmu yang benar.
Antum sendiri?”
“Iya” jawabnya
“Ukhti, ana mau mengatakan hal yang penting!”
“Apa itu? dia pun mendekat dan aku pun juga semakin mendekat. Keakraban tampak sekali pada kami berdua. Aneh, kenapa dia bertambah berbahaya begini?
“Ukhti tahukan, bagaimana fitnah yang berbahaya dalam Islam?”
“Yah tahulah Akh.”
“Begini Ukh, fitnah dalam Islam itu sangat berbahaya. Sebuah kedzaliman besar apabila seseorang wanita itu memfitnah saudaranya. Bukankah fitnah yang besar itu wanita terhadap laki-laki?”
“Iya, tetapi kan ini memang ada keperluannya?” Jawabnya enteng.
“Benar, ana tidak membahas hal ini dulu. Ana membahas umum aja deh. Antum tahu, laki-laki yang terfitnah oleh wanita itu dadanya sesak dan sangat berat. Maka fitnah itu harus dihilangkan. Benar?”
“Iya.”
Antum tahu Ukh, bahwa fitnah itu sangat menyakitkan dan itu suatu kedzaliman yang besar. Jangan sampai laki-laki berdoa kepada Allah dengan mengangkat tangannya, ‘Allahummaj’al sa’rona ‘ala man tholamana[2] Tahu artinya?...”
Dia menggeleng, aku pun diam sejenak. Aku sering menuliskan kalimat ini di Facebook yang kutujukan kepada seseorang yang menyebalkan yang pernah berkhianat kepadaku, padahal dahulu dia telah memfitnahku.
“Artinya, jangan sampai Allah menurunkan murkaNya kepada orang yang telah mendzalimi dia yang berdoa. Lalu dengan diri kita, bagaimana dengan kita?”
“Apa maksudnya Akh?” Dia bertanya
“Bagaimana untuk menghentikan fitnah di antara kita?” Tanyaku
“Dengan menundukkan pandangan dan menjaga pergaulan.” Katanya
“Itu pencegahan, tapi kalau sudah fitnah itu benar-benar terjadi? Tiada lain Ukh, kita harus menikah! Bagaimana kalau ana menikahi antum? Kita sudah saling dekat tapi bukan mahram.”
Kartika pun kaget, melotot lalu mundur. Dia pun langsung mencercaku dengan kata-kata genit tapi penuh penghinaan. “Apa? nikah? gak salah antum? NDAK!” Itulah yang dia ucapkan kemudian pergi begitu saja meninggalkanku.
Aku pun terbangun, alarm menunjukkan waktu sudah mulai beranjak siang. Subhanallah, laa quwwata ila billah, itu tadi hanya mimpi. Alhamdulillah, andai itu terjadi pada orang yang demikian pada alam dan dunia nyata. Maka sungguh perempuan itu telah merugi. Allahummaj’al sa’rona ‘ala man tholamana.

Cerpen ditulis hari Selasa, tanggal 10 Rabi’ul Awwal 1434 / 22 Januari 2013
@nd.


[1] Rujukan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari&Muslim. Rasulullah bersabda, “Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita.”
[2] “...Wahai Allah, jadikanlah pembalasan terhadap siapa yang telah mendzalimiku.” (Potongan doa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad Sahih).
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Suara Nada Islami

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berdiskusi...Tangan Kami Terbuka Insya Allah